Kamis, 22 November 2012

GTM

Anak si anu nggak pernah susah makan? Ah,saya sih nggak percaya seratus persen. Pasti ada saat si bocah melancarkan gerakan tutup mulut (GTM), gerakan malas mengunyah (GMM) maupun gerakan mulut melepeh (GMM), atau segala jenis gerakan lain berjudul ogah-ogahan makan.

Cak Mad, anak sulung saya yang mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun, tak luput dari GTM. Aksi Cak Mad berlangsung sangat ekstrim saat usianya 1 hingga 1,5 tahun. Sebelumnya, GTM berlangsung sesekali, berselang-seling semaunya sendiri. Pernah pula terjadi maraton beberapa hari. Dan setiap momen GTM adalah masa-masa frustrasi saya.

Sebelumnya, Cak Mad sempat tertarik nasi, dan sempat pula menjadi penggemar nasi tim dengan berbagai sumber kaldu (daging, ayam kampung, maupun ikan). Namun entah kenapa mendadak menu yang sudah berganti-ganti setiap hari (kadang berganti pula setiap pagi dan sore) semuanya ditolak mentah-mentah.
 
Saat usianya 14 bulan, Cak Mad sempat menyukai bubur daging ulek resep mbahnya di Porong. Rasa bubur daging ulek ini memang gurih, enak, gizinya pun relatif lengkap (ada karbohidrat, sayuran, dan proteinnya). Tapi beberapa pekan kemudian setelah rutin membuat bubur daging ulek dengan berbagai variasi sayur, GTM terulang kembali. Hitungan suapan bubur yang masuk mulutnya tak sampai sepuluh sendok. Ya Tuhan, saya frustrasi menggila. Apalagi, membuat bubur ulek cukup menguras tenaga dan waktu.

Untuk sementara waktu, akhirnya Cak Mad lebih banyak mengonsumsi buah potong dan jus buah. Itulah yang patut saya syukuri, Cak Mad nyaris tak pernah menolak buah. Mulai dari pepaya, jeruk, apel, stroberi, pisang, alpukat, manggis, sampai durian. Hanya tomat saja musuh besarnya. Meski menyantap buah setidaknya tiga kali sehari, saya tetap menyediakan menu utama (kadang nasi lembek, nasi tim, kentang kukus, macaroni schotel, atau mie organik). Walaupun akhirul hari, menu utama itu seringkali hanya tersentuh beberapa sendok saja.

Herannya, ibu saya justru santai-santai saja. "Sekarang kan masih ASI. Nanti juga dia akan makan banyak. Tunggu saja waktunya."

Tetap saja saya frustrasi. Menunggu sampai kapan? Saat Cak Mad berusia 2 tahun, saya makin khawatir dengan asupan gizinya jika ia disapih nanti. Beberapa bulan menjelang lulus S3 ASI, memang sudah ada tanda-tanda Cak Mad doyan makan. Dia mulai mau makan menu utama paling tidak sehari sekali. Selain itu, dia suka ngemil roti gandum.

MasBojo menenangkan saya yang senantiasa cemberut pada jam makan Cak Mad, "Dia nggak kurang gizi kok, Bu. Badannya sudah ideal. Lihat saja, mana pernah sakit batuk pilek, diare, apalagi yang aneh-aneh. Gerakannya juga lincah, jago lari."

Ibu saya menambahkan, "Badannya juga berat kok. Gendong sebentar sudah pegel semua rasanya."

Ah saya masih belum puas. Kalau Cak Mad belum makan nasi tiga kali sehari, saya merasa gizinya masih kurang. Kalau sudah begitu, saya jadi repot mencari cemilan roti, atau kue tradisional yang biasanya disukai Cak Mad (bolu ubi ungu, onde-onde, dll) demi kebutuhan karbohidratnya.

Dan datanglah hari dimana Cak Mad benar-benar telah berhasil lepas dari susuan saya. Tiba-tiba segala yang dibilang ibu saya terbukti, mendadak Cak Mad doyan makan. Nasi, sayur, ikan, daging, ayam, tak ada yang ditolak. Sungguh saya harus sujud syukur. Sekarang saya tidak perlu bercapek-capek memasak dobel menu lagi (satu menu saya dan MasBojo dan satu menu khusus Cak Mad). Dia sudah bisa menyantap makanan yang kami makan asalkan tidak mengandung cabe rawit.

Memang ada beberapa trik untuk mempermudah Cak Mad menyantap makanan karena GTM Cak Mad bisa saja kambuh lagi. Untuk itu, perlu jeli membaca tanda-tandanya. Misalnya, saat malas mengunyah, perlu ada cara penyajian yang diubah.

Salah satu trik MasBojo (yang paling jago menyajikan makanan untuk Cak Mad), semua lauk untuk Cak Mad dicacah kecil-kecil, diusahakan ada kuah untuk mempermudah dia menelan, dan kerupuk untuk merangsang mengunyah (tapi semuanya tak boleh diaduk, melainkan disusun rapi, kuah pun ditaruh dalam mangkok berbeda). Soal kerupuk, meski saya agak keberatan, tapi saya akali dengan menggoreng kerupuk sendiri, dan kerupuk diberikan dalam porsi kueciiiil, sekadar untuk menimbulkan sensasi krauk saja.

Selanjutnya, sudah mulai terlihat selera Cak Mad seperti apa. Dia berpotensi menyukai pedas (karena sangat doyan dengan balado teri Medan yang mengandung cabe merah). Seleranya adalah makanan dengan bumbu yang kuat, spicy, persis kayak saya. Sedangkan dari bapaknya, Cak Mad menuruni bakat doyan kerupuk dan kecap (ndeso ya?).

Begitulah, sejak disapih hingga kini Cak Mad sudah mulai disiplin makan. Menu utama (nasi dan lauk pauk) disantap tiga kali dalam sehari, buah dua kali sehari, dan cemilan sesekali (Cak Mad suka roti gandum isi keju, martabak manis keju susu, kue tradisional, atau puding). Nggak pakai susu formula? Nggak. Tapi saya nggak segitunya anti susu meski dulu menganut ajaran ASI eksklusif. Cak Mad boleh minum susu UHT kegemarannya, hanya setelah dia makan menu utama dan buah (dan kalau dia minta karena ingat dia belum minum susu, hehehe...).

Saya tentu tak boleh takabur, GTM dan GMM mungkin saja kambuh lagi sewaktu-waktu. Namanya juga anak-anak. Tapi kalaupun Cak Mad ogah-ogahan makan, saya merasa sudah lebih siap tempur dan berjanji tidak akan sefrustrasi kayak sebelumnya. Hehehe...


Ps.
Dan pada akhirnya Cak Mad sudah bisa menyantap tomat lho, tomat sebagai 'sambal'. Caranya, tomat dicincang kecil-kecil dan dicampur kecap, sebagai cocolan makan ikan. Ternyata memang tak ada yang dia tak doyan, hanya soal cara penyajian, dan waktu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar