Tampilkan postingan dengan label senandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senandung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Menjemputmu Suatu Siang

Dari kejauhan, dari balik kaca jendela, kulihat kamu tersenyum padaku. Kamu tahu, senyummu itu membuatku mati-matian harus menahan tangisan yang ingin kupecahkan. Kamu tahu kenapa? Karena aku takut sekali kehilangan saat-saat seperti ini, saat kau tersenyum padaku dan begitu jelas meski tanpa kata: bahwa kamu menungguku, dan tak sabar menghambur memelukku, lalu menceritakan segala hal yang baru kau alami dengan bahasamu yang belum rapih.

Aku takut sekali karena masa yang demikian tak dua kali. Barangkali cukup dalam bilangan tahun yang singkat saja dan semuanya berganti sebagaimana hukum bumi. Suatu hari barangkali kamu tak perlu aku datang menungguimu lagi sebab kamu telah mulai dewasa dan tak ingin tampak manja. Suatu hari barangkali kamu akan diam dan tak ingin selalu bercerita apa saja, meskipun aku selalu siap mendengar apa saja yang ingin kamu katakan.

Senin, 29 Oktober 2012

Yang Kedua


Kau serupa seperti yang pertama, kau rupanya juga suka muncul di tengah kesibukanku bersama kertas-kertas, dan segala bagian kepadatan almanak dengan rencana-rencana. Kau adalah takdir, yang terbebas dari segala ikatan kesepakatan duniawi.

Pada mulanya ragu, dan penat yang tiba-tiba berlipat ganda. Namun mereka menyambutmu dengan bahagia. mereka memanggilmu, bercakap seolah kau telah nyata dan genap segala indera. Mereka tak henti melimpahimu kecupan dan senyuman seolah tak ada dinding diantara kalian. mereka mengabarkannya gegap gempita seperti penemuan pintu surga. Dan sungguh cela jika aku mengabaikannya.