Jalur sempit yang tak bisa dilewati dua angkot itu berada di bawah saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET). Kepada Cak Mad, Mas Bojo menjelaskan bahwa SUTET telah menginspirasi Alexandre Gustave Eiffel merancang Menara Eiffel di Paris, Perancis nan jauh di sana.
#abaikan.
Lewat jalur SUTET, kami bermacet ria di sepanjang Jalan Kartini yang hanya bisa digunakan satu jalur. Sumuk, emosi, tak sabar, semuanya sudah berbaur jadi satu. Tapi ya sudahlah, tak ada jalan selain menunggu. Kata Mas Bojo yang suatu hari menguping percakapan dalam angkot, perbaikan jalan dadakan di musim penghujan ini dikebut untuk diresmikan pada 27 Desember. Konon cagub incumbent yang meresmikan akan menggelar perayaan di tiga titik,
Kami tak turun di lampu merah Margonda-Siliwangi seperti biasanya, melainkan terus terbawa angkot 05 sampai ITC Depok untuk mampir di toko bahan kue 'Mira' di Ruko Depok Mas. Ini gara-gara obsesi membuat cookies alfabet buat Cak Mad. Satu bahan lupa saya beli saat belanja di Pasar Mester Jatinegara beberapa saat sebelumnya. Google pun merekomendasikan Toko Mira yang gampang saya jangkau sebagai warga
Tiba di RS Hermina tepat pukul 10.00 WIB, eh ternyata Dokter Nining belum nongol juga. Baru satu jam kemudian bu dokter cantik masuk ruang praktik, dan nama saya kok kalah sama banyak nama ya? Bukannya saya sudah daftar dari bulan lalu dan dapat nomor antre pertama?
"Masuknya berdasarkan jam kehadiran," jelas seorang suster yang membuat saya dan Mas Bojo ber-ooo.
Ya ya ya, memang yang begitu lebih adil daripada sekadar mengikuti daftar booking. Tapi kalau saya sih, mendingan menunggu saat dokternya sudah datang, daripada datang duluan tapi menunggu dokternya lebih satu jam.
Saat adiknya Cak Mad di-USG, semuanya tampak baik-baik, perkembangan bagus, tapi belum ketahuan jenis kelaminnya. Padahal saya sudah penasaran berat, hehehe...
Karena semuanya tak ada masalah, dan kebetulan kami sedang tak punya pertanyaan, walhasil kontrol pun berlangsung super singkat. Ah sayang sekali rasanya sudah menunggu lama tapi cuma konsultasi sak nyuk'an. Tapi ya sudahlah, lagipula saya sudah lapar. Kami pun ngangkot ke Margonda, makan soto ayam murah meriah di deretan toko kolong jembatan penyeberangan,
Kami naik taksi ceban perak hingga Stasiun Pondok Cina. Dari sana, saya langsung naik Commuter Line ke Citayam, dan Mas Bojo ngojek ke LabSosio. Sampai Citayam, jalanan kering kontras dengan sekitar Margonda yang basah kuyup. Cak Mad pun berbahagia masuk rumahnya yang tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar