Rabu, 07 November 2012

Jejak Rumah (3)


Pertanyaan presenter imajiner pada saya: Jadi, apakah rumah Nuansa sudah menjadi rumah idaman Anda?

Jawabannya: sudah. Tapi, masih ada tapinya.

Bahwa saya dulu mengidamkan rumah kecil namun lapang, kaya cahaya matahari dan ventilasi, dan memiliki halaman cukup luas, maka tentu semua itu sudah terpenuhi. Rumah Nuansa yang kami tinggali saat ini, meski hanya tipe bangunan 45 di tanah 95 meter, namun terasa lapang karena langit-langit rumah yang tinggi dan sirkulasi udara bagus, serta seluruh ruangan (bahkan kamar mandi) mendapat cahaya matahari. Sedangkan halamannya, tentu terhitung sangat luas jika dibandingkan dengan rumah Langgar, hehe...

Tapi ya jelas, rumah ini belum sempurna. Yang paling kelihatan: kalau hujan ada tiga titik bocor beraksi. Satu di kamar depan, satu di kamar belakang, dan yang paling parah di depan kamar mandi (sampai empat kali dibenahi tapi tak kunjung genah). Yang lainnya, dua kusen pintu kamar pernah dihajar rayap sampai hancur. Setelah merongrong pengembang, akhirnya kusen kayu itu diganti dengan kusen alumunium.

Lainnya, janji manis perumahan cluster yang harusnya punya hanya satu akses. Lha ini kok masih ada dua jalur tidak resmi yang membuat bukan hanya ayam dan bebek dari luar komplek melenggang masuk, tapi orang-orang yang mengkhawatirkan (misalnya: terduga maling *kita sebut terduga, seperti istilah Densus 88).

Ya sudahlah, kalau memikirkan segala kekurangan itu pastinya capek dan stres. Agak pahit lagi kalau ingat rumah Langgar (yang hampir lunas itu) dijual lagi untuk DP rumah Nuansa, demi berutang ke bank yang 15 tahun lamanya. Tapi pahit-pahitnya itu demi tujuan baik, saya yakin endingnya manis. Dari penghasilan PNS yang pas-pasan dan gaji peneliti yang lumayan tapi tak rutin, berketat-ketat duit (mengurangi belanja hahahihi, nonton hahahihi, dll yang terlalu hahahihi), semuanya demi bisa punya rumah layak.

Ukuran layaknya gampang: Cak Mad jarang ke rumah sakit.

Dulu, waktu masih tinggal di rumah Langgar, sejak Cak Mad berusia 7 bulan (sudah MPASI) rata-rata setiap dua bulan sekali saya harus membawa Cak Mad ke dokter anak. Entah itu karena badan panas lebih dari 3 hari, pilek atau batuk. Padahal, makanan pendamping ASI yang dia konsumsi dijamin sehat, semuanya alami, saya bikin sendiri.

Sekarang, hampir setahun kami tinggal di rumah Nuansa, Cak Mad belum pernah terserang pilek atau batuk atau panas yang lebih dari 3 hari (segala penyakit yang jamak diderita balita). Satu perkecualian, memang pernah suhu badan Cak Mad mencapai 38 derajat Celcius, tapi suhu panas itu tak sampai lewat 12 jam, langsung turun setelah diberondong dengan air jeruk+madu, air putih, dan buah-buahan. Peristiwa badan anget itu pun terjadi karena sehari sebelumnya Cak Mad maraton pergi-pergi kesana kemari demi nafsu jalan-jalan emaknya, jadi mungkin dia kelelahan.

Absennya kami di dokter anak langganan, menurut analisis culun saya, salah satunya disebabkan perbedaan yang cukup kontras dalam hal sanitasi rumah Nuansa dengan rumah Langgar. Selain minim debu, banyak ventilasi, banyak cahaya, juga rumah yang lapang dan banyak 'hijau-hijauan' tentu berperan membangkitkan energi positif penghuninya.

Mas Bojo di sela jam ngantornya, sering mengeluh selalu ingin cepat sampai rumah (karena merasa rumah adalah tempat bekerja -menulis dan membaca- paling nyaman). Cak Mad pun lebih berbahagia (dan lahap makannya) saat menghabiskan waktu di rumahnya sendiri. Dia suka nongkrong di halaman belakang rumah dan menemukan monster-monster kecil teman mainnya, seperti belalang dan berbagai jenis kumbang, juga capung dan burung pipit yang sering nyasar masuk rumah. Saat malam tiba, Cak Mad suka nongkrong di teras depan mengejar kodok-kodok yang suka mampir berburu nyamuk atau laron.

Demikianlah. Rumah kami belum sempurna, namun tetaplah surga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar