Setelah menikah, mendadak saya kesurupan arwah Sri Sumarah. Ciyus? Enggaklah. Saya cuma terkenang-kenang dengan tokoh cerita Umar Kayam yang jago memijit itu. Saya belum sampai pada level sumarah, pasrah, nriman, selayaknya Mbok Sri yang kemudian menjadi tukang pijat kesayangan banyak orang itu. Lagipula, konteks cerita Sri Sumarah kan jauuuuh bedanya dengan saya.
Tapi bahwa saya mendadak saya jadi hobi memijit MasBojo dan membuatnya kecanduan itu bagi saya terasa istimewa. Rumangsa saya membengkak saking senengnya, "Wah saya keren juga bisa mijit kayak Sri Sumarah." Saya jadi bingung kok proyeksinya ke situ terus ya?