Senin, 24 Juni 2013

Gentle Birth Story 4

Kalau ingat momen persalinan adiknya Cak Mad ini, saya nyengir malu. Setiap ikut kelas hypno-yoga saya selalu berkata pada diri saya sendiri, saya akan melahirkan dengan lebih elegan. Saya nggak mau jerit-jerit, nggak mau heboh-heboh, pokoknya saya pengen yang lembuuut, yang syahdu, yang romantislah pokoknya.

Eh tapi yang namanya rencana ya tak melulu berhasil. Sebagai orang Jawa, tentu saya akan mengikuti filosofi beruntung. Akhirnya saya pun lega: "Untung bisa lahiran normal, untung prosesnya cepat, untung bidannya super sabar dan baik, untung dedek bayinya sehat, untung saya sehat..." Kurang apa lagi coba?

Jumat, 07 Juni 2013

Gentle Birth Story 3

Ya jelas saya tak mau datang lagi ke Rumah Sakit B. Pertama, tarif melahirkan di rumah sakit itu bukan level kami, terlalu mahal untuk kami yang hidupnya tak ditanggung asuransi dan penghasilan bulanannya sudah ludes tersedot KPR.

Kedua, situasi rumah sakit membuat saya seperti tidak punya pilihan, langsung masuk kamar bersalin, langsung induksi (yang katanya menyakitkan itu). Kok melahirkan yang seharusnya berlangsung alami malah jadi penuh rekayasa sekali ya?

Selasa, 04 Juni 2013

Gentle Birth Story 2

Dari Dokter N di Rumah Sakit H, saya beralih ke Dokter S di Rumah Sakit B. Hasilnya sebelas dua belas alias enggak beda, sama-sama membuat saya tidak happy.

22 April siang itu, Dokter S yang berjilbab itu menyapa antrean bumil di depan ruang praktiknya, termasuk saya yang sudah menunggu cukup lama. "Maaf telat nih, baru kelar operasi." Jreeeng, saya langsung ingat selentingan tentang angka tindakan sectio yang cukup tinggi di rumah sakit itu.

Minggu, 02 Juni 2013

Gentle Birth Story 1

Dedeknya sudah lahir?
Sudah.
Di rumah sakit mana? 
Di rumah. 
Hah?
Aneh ya zaman sekarang melahirkan di rumah? Kerabat, tetangga, teman, kebanyakan terheran-heran (mungkin campur ngeri, campur kasihan, semacam melahirkan yang teramat spontan sehingga tak keburu lagi dibawa ke rumah sakit) atau semacam pelit untuk keluar duit asal selamat. Tidak. Bukan itu konteksnya.