Adakalanya saya menyalahkan rumah baru ini yang membuat saya dan MasBojo jadi cerewet. Selalu merasa ada yang kurang, perlu dibenahi, perlu ditambah ini itu, perlu dianu-anu, pokoknya segala macam perombakan yang tak ada habisnya. Rumah kami sekarang memang tak terlalu baru, hampir setahun kami tempati (sejak Desember 2011). Tapi karena rumah ini cukup representatif sebagai surga kecil kami, maka demi kenyamanan dan kepuasan, perlu dimaklumi jika kecerewetan ini terus berlanjut.
Sebelumnya, kami tinggal di rumah yang berjarak sekitar 5 km dari rumah sekarang. Supaya mudah, sebut saja rumah lama itu sebagai rumah Langgar, sebab lokasinya berada di jalan Langgar. Rumah itu dibeli dengan motivasi: capek ngontrak. Sebelum punya rumah Langgar, kami mengontrak paviliun kecil di Ragunan yang cukup nyaman, strategis dan mudah akses transportasi ke seluruh Jakarta karena dekat dengan shelter Transjakarta. Tapi sepuluh juta lenyap tanpa bekas setiap tahun terasa menyesakkan dada.
Kenapa nggak numpang rumah orang tua saja dulu?
Walaupun banyak memberi manfaat, terutama dalam hal pengiritan pengeluaran, tapi saya dan MasBojo memilih mengontrak. Itu membuat kami lebih bebas berekspresi, bebas mengelola rumah tangga sesuai dengan visi misi kami sendiri (ceile), dan belajar mengatur finansial secara ketat. Selain itu, ngontrak juga membuat berkeluarga jadi penuh tantangan, terutama tantangan untuk tidak berlama-lama menjadi pengontrak!
Maka, MasBojo membuat keputusan membeli rumah Langgar, keputusan yang nekat karena status keuangan kami yang benar-benar pas-pasan. Tapi kalau sudah nekat ya semuanya bisa lewat. Rumah Ragunan oke, tapi belum mungkin dimiliki sendiri (tanah Ragunan mihil bok, miliaran!). Rumah Langgar di kampung jin buang anak (celaan orang Jakarta zaman dulu yang menganggap kawasan Citayam udik minta ampun), tapi bisa dimiliki sendiri dalam waktu dekat.
"Kita beli saja!" kata MasBojo. Pertimbangannya adalah harga rumah cukup murah dan akses transportasi relatif mudah. Ke stasiun cukup sekali ngangkot atau kalau mau cepat bisa ngojek, tak sampai 10 menit sudah sampai. Kalau kereta ngadat (gangguan sinyal, gangguan wessel, dll), ada angkot ke Depok yang beroperasi 24 jam, sampai Depok bisa nyambung bus ke Jakarta. Kalau suatu hari punya kendaraan sendiri, akses ke tol Jagorawi tak sampai 30 menit.
Dari mana bisa beli rumah? Ya dari tabungan + ngutang. Saat itu, korbannya keluarga kami dan beberapa teman. Lha bagaimana lagi, namanya juga baru mulai berkeluarga, wajarlah kalau segitu kerenya. Demi bisa mencicil utang itu, hidup penuh kehura-huraan mesti dikurangi, seperti misalnya nonton di bioskop, nonton pertunjukan ini itu, rutinitas belanja-belanji di Blok A Tanah Abang, dll. Berpahit-pahit sebentar, demi masa depan yang lebih manis, hehe... Untung saja, rezeki dari gusti Allah tak terputus dan utang-utang kami bisa lunas juga.
Demikianlah, pada Agustus 2010, ketika Cak Mad baru berusia satu bulan, kami boyongan ke rumah Langgar yang luas tanahnya cuma 52 meter dan hampir semuanya habis buat bangunan. Untuk dua orang dewasa dan satu bayi, rumah itu belum terasa sempit. Tapi kalau sudah ketambahan tamu, wah pasti setiap keluar masuk ruangan akan terjadi tabrakan (serius ini).
Selain sempit, rumah itu juga berisik. Setidaknya lima kali dalam sehari, Cak Mad akan terbangun dari tidurnya. Itu karena pengeras suara mushola yang nyaris berhadapan dengan rumah kami mengarah ke rumah kami dengan volume yang minta ampun. Muadzinnya bukan hanya melantunkan adzan, tapi juga nyanyi-nyanyi (meski berbahasa Arab tapi catet ya: itu nyanyi, bukan ngaji). Boro-boro suaranya merdu, kebanyakan berasal dari pita suara hancur, hingga saat keluar dari toa spontan berakibat menyakitkan telinga pendengarnya.
Yang paling sering adzan adalah seorang lelaki tua, biasa dipanggil Engkong. Berkacamata buram, berbodi kering kerempeng, keriput, tapi punya suara lantang dan biasanya selalu jadi orang yang paling awal sampai di mushola. Si Engkong ini bukan hanya adzan dan nyanyi, tapi juga curhat! Mulai dari cerita masa mudanya menjadi tukang batu yang bekerja kesana kemari di Ibukota, lalu mengeluh tentang anak-anak kecil yang sering berisik menjelang sholat, sampai mengomeli bapak-bapak yang malas ke mushola saat hujan. Semuanya disampaikan lewat pengeras suara.
Kadangkala curhatnya terdengar lucu, tapi bukan sekali dalam sehari curhatnya membangunkan Cak Mad yang baru saja susah payah saya tidurkan. Dan itu menjadi tidak lucu lagi, membuat saya sering misuh karena keberisikan yang merusak kuping dan mengganggu ritme di rumah. Kalau anak saya nggak tidur-tidur kapan saya masaknya? Dan ternyata bukan saya pula yang misuh-misuh, melainkan banyak orang. Ada yang mengeluhkan Engkong terlalu pagi membangunkan orang: pukul tiga dinihari. Dari zaman jebot juga jam segitu belum waktunya subuh, protes orang-orang sekitar.
Soal berisik pukul tiga dinihari, saya dan MasBojo yang orang malam (maksudnya suka bangun lepas tengah malam) tidak terlalu memusingkan hal itu. Kami memang sering melekan untuk menulis, membaca, dan lain-lain. Pukul tiga, biasanya Cak Mad juga dalam taraf tidur pulas yang sulit bangun. Tapi buat orang lain yang mungkin kurang tidur atau susah tidur, jelas Engkong dianggap mengganggu. Apalagi jika yang disampaikan Engkong lewat toa di pukul tiga dini hari itu bukan ceramah agama, melainkan (lagi-lagi) curhatnya, ditambah bumbu soal hantu yang sering menggodanya di lorong tempat wudhu.
Sampai pada akhirnya suatu hari tak lagi terdengar suara Engkong. Kalau biasanya lima kali sehari toa mushola menyala, tiba-tiba menjadi bolong-bolong. Hanya adzan maghrib-isya-subuh saja yang pasti muncul dan bukan Engkong pelantunnya. Dari obrolan tetangga, saya dengar banyak orang yang kesal dan mengadu ke pengurus mushola yang melarang Engkong adzan. Konon sampai diberi kompensasi (baca: duit), entah dengan pertimbangan apa. Yang jelas, masa-masa itu terasa sunyi, seperti ada yang hilang. Lalu muncullah rasa iba. Kasihan ya Engkong, sudah tua mau beraktivitas di mushola saja di larang.
Masa tenang itu ternyata tak sampai hitungan bulan, lha kok tiba-tiba entah bagaimana caranya kemudian Engkong eksis lagi, berisik lagi, dan akibatnya saya misuh-misuh lagi. Oalah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar