Jumat, 19 Juli 2013

Menjemputmu Suatu Siang

Dari kejauhan, dari balik kaca jendela, kulihat kamu tersenyum padaku. Kamu tahu, senyummu itu membuatku mati-matian harus menahan tangisan yang ingin kupecahkan. Kamu tahu kenapa? Karena aku takut sekali kehilangan saat-saat seperti ini, saat kau tersenyum padaku dan begitu jelas meski tanpa kata: bahwa kamu menungguku, dan tak sabar menghambur memelukku, lalu menceritakan segala hal yang baru kau alami dengan bahasamu yang belum rapih.

Aku takut sekali karena masa yang demikian tak dua kali. Barangkali cukup dalam bilangan tahun yang singkat saja dan semuanya berganti sebagaimana hukum bumi. Suatu hari barangkali kamu tak perlu aku datang menungguimu lagi sebab kamu telah mulai dewasa dan tak ingin tampak manja. Suatu hari barangkali kamu akan diam dan tak ingin selalu bercerita apa saja, meskipun aku selalu siap mendengar apa saja yang ingin kamu katakan.

Sabtu, 13 Juli 2013

Lotus Birth? Gimana Gerangan?

Lucunyaaaa... pengen nggendong deh (ibu tetangga mengulurkan tangan). Eh tapi itu apaan mbak?
Ini ari-arinya...
Hah? Ari-ari? (ibu tetangga urung menggendong bayi saya, hihihi)
Bukan hanya tetangga saya yang syok dengan goodie bag berisi plasenta atau ari-ari (yang selalu ngintil dedek bayi kemanapun dia dibawa). Pula saudara, dan bahkan orang tua saya yang pada awalnya juga kaget melihat tali pusar tak dipotong langsung setelah lahir.

"Ada-ada aja saja," kata ibu saya. Dan saya cuma nyengir (*jurus ampuh menghindari gap generasi, hehehe...).

Senin, 24 Juni 2013

Gentle Birth Story 4

Kalau ingat momen persalinan adiknya Cak Mad ini, saya nyengir malu. Setiap ikut kelas hypno-yoga saya selalu berkata pada diri saya sendiri, saya akan melahirkan dengan lebih elegan. Saya nggak mau jerit-jerit, nggak mau heboh-heboh, pokoknya saya pengen yang lembuuut, yang syahdu, yang romantislah pokoknya.

Eh tapi yang namanya rencana ya tak melulu berhasil. Sebagai orang Jawa, tentu saya akan mengikuti filosofi beruntung. Akhirnya saya pun lega: "Untung bisa lahiran normal, untung prosesnya cepat, untung bidannya super sabar dan baik, untung dedek bayinya sehat, untung saya sehat..." Kurang apa lagi coba?

Jumat, 07 Juni 2013

Gentle Birth Story 3

Ya jelas saya tak mau datang lagi ke Rumah Sakit B. Pertama, tarif melahirkan di rumah sakit itu bukan level kami, terlalu mahal untuk kami yang hidupnya tak ditanggung asuransi dan penghasilan bulanannya sudah ludes tersedot KPR.

Kedua, situasi rumah sakit membuat saya seperti tidak punya pilihan, langsung masuk kamar bersalin, langsung induksi (yang katanya menyakitkan itu). Kok melahirkan yang seharusnya berlangsung alami malah jadi penuh rekayasa sekali ya?

Selasa, 04 Juni 2013

Gentle Birth Story 2

Dari Dokter N di Rumah Sakit H, saya beralih ke Dokter S di Rumah Sakit B. Hasilnya sebelas dua belas alias enggak beda, sama-sama membuat saya tidak happy.

22 April siang itu, Dokter S yang berjilbab itu menyapa antrean bumil di depan ruang praktiknya, termasuk saya yang sudah menunggu cukup lama. "Maaf telat nih, baru kelar operasi." Jreeeng, saya langsung ingat selentingan tentang angka tindakan sectio yang cukup tinggi di rumah sakit itu.