Lucunyaaaa... pengen nggendong deh (ibu tetangga mengulurkan tangan). Eh tapi itu apaan mbak?Bukan hanya tetangga saya yang syok dengan goodie bag berisi plasenta atau ari-ari (yang selalu ngintil dedek bayi kemanapun dia dibawa). Pula saudara, dan bahkan orang tua saya yang pada awalnya juga kaget melihat tali pusar tak dipotong langsung setelah lahir.
Ini ari-arinya...
Hah? Ari-ari? (ibu tetangga urung menggendong bayi saya, hihihi)
"Ada-ada aja saja," kata ibu saya. Dan saya cuma nyengir (*jurus ampuh menghindari gap generasi, hehehe...).
Proses 'ada-ada saja' itu dinamai lotus birth, kelahiran bayi yang tidak diikuti pemotongan tali pusar secara langsung setelah plasenta lahir. Oke, ini terdengar tidak lazim. Lha terus plasentanya gimana? Apa nggak bau kalau tidak langsung dikubur? Gimana menggendong bayi kalau masih ada plasentanya?
Pada saat hamil tua dan berdiskusi dengan Bidan Erie, saya hanya minta penundaan pemotongan tali pusar (delayed cord clamping), tidak melakukan lotus birth. Di mata saya, lotus birth tampak ribet sekali. Mbak Erie menghargai pilihan saya.
Ketika pada akhirnya saya mencoba elakukan lotus birth, saya bukan semata ikut-ikutan tren. Alasan pertama, saya merasa satu pikiran dengan pendapat para naturalis (saya sebut saja demikian ya) mengenai sejumlah manfaat lotus birth. Alasan kedua, yang paling utama, karena suami saya nan baik hati itu tulus ikhlas siap berepot-repot untuk merawat plasenta si dedek.
Kebaikan menunda pemotongan tali pusar antara lain perpanjangan aliran darah ke bayi, dan mencegah defisiensi zat besi yang artinya juga mencegah anemia. FAQ tentang lotus birth bisa dicek di sini.
Tapi bukan berarti tak ada silang pendapat tentang lotus birth. Hilda Hutcherson, profesor obgyn dari Columbia University, AS, meragukan lotus birth karena belum pernah ada temuan ilmiah yang membuktikan manfaat lotus birth sebagaimana yang diklaim para naturalis. Akan tetapi bahwa menunda pemotongan plasenta, setidaknya hingga plasenta berhenti berdenyut (rata-rata sekitar 3 menit) bermanfaat pada bayi, telah diakui oleh kalangan akademi juga praktisi medis.
Saya cenderung sepakat dengan para naturalis itu dengan alasan sederhana, seperti alasan saya mati-matian mencegah jangan sampai melahirkan secara sectio-caesar: Bahwa tubuh punya mekanisme yang sempurna (lha penciptanya saja Yang Maha Sempurna), dan bahwa momentum istimewa tubuh seperti melahirkan patut dirayakan tanpa intervensi yang menyakiti, yang traumatis. Memotong tali pusar secara spontan, saat ia masih berdenyut, seperti memisahkan sepasang kekasih tanpa negosiasi terlebih dahulu. Dan saya rasa itu menyakitkan.
Rabu 8 Mei petang setelah melahirkan, spontan suami saya yang memutuskan untuk tidak memotong tali pusar di hari itu. Lho kok suami saya? Bukan saya? Ya bukan, karena dari awal saya (hehehe) merasa belum sanggup untuk merawat plasenta pascadilahirkan. Saya bilang sama suami saya, kalau sampeyan bisa, siap repot, dan mau, ya monggo. Eh ndilalah dia mau! Oh saya takjub!
Bukannya apa-apa, bayangkan saja, bentuk plasenta itu sangat tidak menarik
Tapi tak bisa dimungkiri dari situlah saya dan anak saya terhubung selama masa kehamilan. Plasenta, paling utama adalah sebagai kurir gizi dan oksigen. Tak heran jika ada budaya lokal yang memperlakukan plasenta penuh penghormatan. Di Jawa saja, yang saya ketahui, hingga kini masih banyak orang yang mengubur plasenta dengan pelbagai tetek bengek. Misalnya, dibungkus kain putih dan tempat dikuburnya diterangi lampu. Lainnya, jika plasenta bayi perempuan disertakan kain+jarum+benang, sedangkan plasenta bayi lelaki diberi pensil juga kertas yang ditulisi huruf dan angka. Di setiap daerah sepertinya ada versinya masing-masing.
Saya bukan termasuk golongan tersebut. Tapi saya memaklumi bagaimana kearifan tradisional memaknai eksistensi plasenta yang bukan sekadar plasenta, melainkan juga 'saudara' janin selama berada dalam kandungan.
Jadi baiklah, suami saya setuju, saya pun setuju (dengan syarat jika ia merasa sudah kerepotan, maka tali pusar dipotong). Oleh Bidan Erie, plasenta dibersihkan lalu ditaburi garam untuk mencegah pembusukan (idealnya garam laut, dan kalau punya bunga-bungaan kayaknya lebih oke). Untuk sementara, plasenta berada dalam baskom yang berada di samping si dedek. Malam itu, anak saya tidur pulas sekali. Terakhir saya susui pukul sepuluh (malam), baru bangun waktu subuh (sampai-sampai saya lupa menyusuinya tiap dua jam).
Esok paginya, saat Bidan Erie datang untuk memandikan si dedek, suami saya ikut kursus singkat membersihkan plasenta. Pada saat mandi pagi, plasenta ikut dimandikan juga. Bukan mandi campur satu bak, melainkan setelah bayi selesai mandi dan berkostum, baru plasentanya nyemplung.
Usai dibasuh, plasenta dilumuri garam baru, lalu dibungkus rapi dengan lembar penyerap cairan yang juga baru. Tahap akhir, plasenta yang sudah dibungkus dimasukkan dalam tas kain cangklong atau goodie bag. Praktis memang, bayi digendong di sisi kanan, maka tas isi plasenta dicangklong di sisi kiri, demikian sebaliknya. Cara merawat plasenta yang lebih lengkap bisa dilihat di artikel ini.
Lotus birth yang ajaib ini hanya sanggup saya pertahankan dua hari saja. Saya tak tega melihat suami saya yang sudah cukup repot membantu saya (terutama mengurus Cak Mad yang sejak punya adik jadi agak caper). Mengurus plasenta setiap pagi dan membantu saya yang kadang agak kagok memindah-mindah goodie bag tampak menyisakan lelah meski ia tak pernah mengeluh. Saya usulkan untuk memotong tali pusar.
Agak sedikit berat hati karena sudah dua hari dan kecenderungan bayi yang menjalani lotus birth cenderung lebih cepat puput tali pusarnya ketimbang bayi yang begitu lahir langsung dipisahkan dengan plasentanya. Tapi saya berpendapat toh anak saya sudah mendapat kebaikan dari penundaan pemotongan tali pusar yang cukup lama.
Jumat siang, saya mengontak Bidan Erie dan meminta datang ke rumah saya untuk memotong tali pusar bayi. Bidan Erie meminta saya menyiapkan lilin. Ternyata pemotongan tali pusar yang sudah mengering (dan mirip kabel) itu dilakukan bukan dengan gunting, melainkan memotong dengan membakarnya. Hah? Kaget ya? Hehehe... saya juga (apalagi ibu saya, parno berat!). Rupanya burning cord itu berguna untuk mencegah infeksi (misalnya tetanus).
Tenang saja, prosesnya lembut kok, perlahan, penuh kehati-hatian. Anak saya juga anteng sekali saat itu, tidak meringis apalagi menangis, yang artinya tidak ada rasa sakit karena jaringan sel di tali pusar sudah mati.
Jadilah Jumat siang itu si dedek berpisah dengan 'saudaranya'. Wah baru kali ini saya merasa mellow dengan plasenta. Saat kelahiran anak pertama dulu, saya bahkan tidak tahu bagaimana wujud rupa plasenta yang luar biasa itu.
Lotus birth -meski tidak paripurna- cukup rumit bagi saya, namun seru! Saya patut bersyukur mengalaminya karena punya tetangga yang praktisi gentle birth seperti Mbak Erie, dan saya bersyukur orang-orang terdekat memberikan dukungan (seperti ibu saya, yang meski parno dengan ketidaklaziman lotus birth namun tetap menghargai pilihan saya). Pada akhirnya ---permisi---- saya mau kecup suami saya sebagai ungkapan terimakasih atas kesabaran dan ketulusannya mendampingi momen-momen
Ps.
Akhirnya tali pusar itu puput pada Minggu siang, atau dua hari setelah burning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar