Senin, 24 Juni 2013

Gentle Birth Story 4

Kalau ingat momen persalinan adiknya Cak Mad ini, saya nyengir malu. Setiap ikut kelas hypno-yoga saya selalu berkata pada diri saya sendiri, saya akan melahirkan dengan lebih elegan. Saya nggak mau jerit-jerit, nggak mau heboh-heboh, pokoknya saya pengen yang lembuuut, yang syahdu, yang romantislah pokoknya.

Eh tapi yang namanya rencana ya tak melulu berhasil. Sebagai orang Jawa, tentu saya akan mengikuti filosofi beruntung. Akhirnya saya pun lega: "Untung bisa lahiran normal, untung prosesnya cepat, untung bidannya super sabar dan baik, untung dedek bayinya sehat, untung saya sehat..." Kurang apa lagi coba?

Seperti yang saya tulis di cerita sebelumnya, pada Selasa 7 Mei saya sudah diminta dokter bersiap-siap datang hari Kamis 9 Mei untuk diinduksi. Hasil USG menunjukkan berat janin 2,6 kg dan air ketuban berada pada skala 7, yang artinya sudah mepet sekali untuk persalinan normal.

Saya yang parno pun curhat ke Mbak Erie, bidan tetangga saya yang juga instruktur yoga itu. Malam harinya Mbak Erie berkunjung ke rumah saya dan menyarankan saya untuk mencoba induksi alami.  Saya juga diminta berkomunikasi dengan janin dan tetap berpikir positif bahwa kandungan saya baik-baik saja.

Sementara itu, di belahan Depok yang lain, teman saya Hepi (yang umur kehamilannya sama dengan saya) sudah masuk rumah sakit karena kontraksinya mulai rutin. Wah saya makin parno dong, kok saya belum kontraksi juga ya. Tengah malam saya sempat mules tapi rentang waktunya masih acak-acakan. Pukul 21 mules, pukul 23 mules, eh sudah gitu saya tidur lelap sampai Subuh.

Sekitar pukul 6, saya mendapat kabar dari Risna kalau Hepi sudah melahirkan pada pukul 1 dinihari. Aduh leganya dia. Saya telepon Hepi dan mendengar cerita serunya tentang kontraksi alaihim yang membuatnya teler dua malam di rumah sakit. Syukurlah persalinan berlangsung normal dan bayinya sehat.

Pukul 8.30 pagi, mulai mules lagi. Setengah jam selanjutnya, lagi. Suami saya langsung membatalkan berangkat kerja. Padahal saya sudah sok keren, "Berangkat aja, nggak apa-apa kok saya ditinggal." Tapi dia tetap memutuskan tidak berangkat. Satu jam kemudian kontraksi lagi, dan lagi. Cak Mad langsung diungsikan ibu saya. Kayaknya ibu saya (yang niatnya datang ke rumah saya cuma untuk mengantar lauk) sudah punya firasat anaknya bakal melahirkan hari ini.

Dan, jreng-jreng, kok ini bukan hanya mules tapi ada yang merembes. Apakah ini ketuban? Saya intip, ini sih bukan pipis karena agak kental sedikit, dan... ada bercak merahnya. Aduh saya jadi panik. Waktu melahirkan anak pertama dulu, tidak ada adegan beginian. Adanya cuma mules yang rutin. Tapi bukankah flek juga salah satu tanda melahirkan? Baiklah, kepanikan mulai menjadi.

Suami saya mengontak Mbak Erie tapi tak ada respon. Sementara itu saya mulai lemas entah kenapa. Satu kali kontraksi, lima belas menit kemudian kontraksi lagi. Dan badan semakin lemas. Aduh ini bagaimana kok Mbak Erie nggak balas sms, nggak ngangkat telepon. Mau jemput Mbak Erie, suami saya nggak tega ninggalin saya sendirian di rumah. Akhirnya ia pun meminta bantuan satpam komplek. Lha si satpam nggak bawa sepeda motor, jalan kakilah dia. Sepertinya belum sampai Pak Satpam sampai di klinik, Mbak Erie sudah mengontak suami saya.

Sekitar pukul 13.30, Mbak Erie dan asistennya, Mbak Rida, tiba di rumah saya. Rupanya baru pukul 11 tadi Mbak Erie menangani persalinan pasiennya di klinik. Itu sebabnya tak lekas merespon telepon maupun sms dari suami saya. Saat Mbak Erie datang, kondisi saya sudah teler dan semakin 'joget-joget'. Pemeriksaan dilakukan, dan sudah menjelang pembukaan 4 cm.

Sepintas saya lihat mereka dan suami saya wira-wiri memasak air panas. Yak, saya akan melahirkan dalam air alias water birth. Dan untuk itu, perlu air hangat yang memenuhi sekitar tiga perempat bagian kolam. Oiya, kolam untuk melahirkan ini bukan bath tub laiknya persalinan di rumah sakit beken seperti RS B, melainkan kolam balon yang biasa dibuat mainan anak itu lho. Selesai dipompa, kelihatan deh gambar-gambar kartun di sekelilingnya. Hihihi...

Karena kolam balon itu cukup besar, perlu banyak air hangat untuk mengisinya. Sementara saya tidak punya panci raksasa. Makanya, proses merebus air sudah dilakukan sejak awal. Menurut Mbak Erie, saya baru akan nyemplung kolam setelah lepas pembukaan 7.

Semakin intens kontraksi, semakin rewel pula saya. Kontraksi lagi, ada rasa pengen pipis dan berdiam di toilet, bercampur nangis, mengaduh, segala ekspresi kesakitanlah pokoknya. Setiap dilakukan pemeriksaan, Mbak Erie selalu bilang, "Wah ini cepet lho Mbak, sebentar lagi ya. Dinikmati ya, kemarin kan pengen kontraksi. Nah ini yang ditunggu sudah datang."

Saya diminta untuk mengaplikasikan latihan pernafasan yang saya lakukan selama yoga saat hamil itu. Saat kontraksi datang, ambil nafas panjang, simpan sejenak, lalu lepaskan perlahan. Tapi dasar saya tak sabar, sedikit-sedikit saya tanya kapan nyemplungnya. Mbak Erie pun selalu bilang "sebentar lagi ya sayang," plus bonus senyum manis.

Makin lama, makin senewen saya oleh rasa sakit. Lupa deh saya dengan impian persalinan yang tenang, lembut, yang syahdu, penuh senyum, menikmati kontraksi sebagai gelombang cinta. Kemana ya semua sugesti itu? Kok malah mengeluh dan mengaduh terus...

"Mau pelvic rocking ya Mbak? Biar terbantu bukaannya," tawar Mbak Erie.

Wah, apapun deh saya turuti supaya cepat sampai di akhir rasa sakit ini. Saya duduk di atas gym ball, melakukan gerakan pelvic rocking alias goyan inul di atas bola. Tak lama kemudian, saya sudah dinyatakan boleh nyemplung kolam. Horee!

Saya lupa jam berapa saya masuk kolam, yang pasti saat saya sudah sampai di pembukaan 8. Aduh sakitnya benar-benar sedap deh pada masa itu. Tapi akhirnya boleh nyemplung juga, saya jadi mulai percaya diri. Lumayan nyaman berendam di air. Saya bisa lebih fokus mengatur nafas dan sedikit lebih tenang.

Selanjutnya, saya sudah diperbolehkan mengejan. Tapi kok lama sekali keluarnya, seperti nyangkut entah kenapa. Mbak Erie pun bertindak, sedikit menarik kepala bayi. Dan begini anak kedua saya lahir: menyelam dalam kolam sejenak kemudian diangkat, menangis, dan langsung diletakkan di dada saya, berada dalam dekapan saya.

Luar biasa sekali, sulit rasanya menggambarkan saat itu. Yang Maha Kuasa mengizinkan anak saya lahir dengan selamat, dengan proses tak terlalu lama. Cairan ketuban pun bagus dan banyak (tak seperti yang diprediksi dokter). Saat itu ada dua lilitan tali pusar di leher dan lengan bayi. Namun bayi saya tak kurang apa-apa, badannya pun montok. Beratnya 3,2 kg! Jauh dari prediksi dokter sehari sebelumnya yang menyebut angka 2,6 kg.

Malam itu, saya tak tidur. Bukan karena merasa sakit atau karena bayi rewel. Justru saya begadang karena takjub melihat adiknya Cak Mad semalaman, di samping saya, tidur begitu pulas dan damai. Betapa kontrasnya dengan tiga tahun lalu, pada malam usai persalinan pertama. Saat itu saya semalaman begadang karena suasana rumah bersalin (sebagaimana rumah sakit, sebagus apapun) membuat saya tak bisa rileks. Apalagi saya tak sepanjang waktu bersama bayi. Kondisi itu membuat saya juga mengalami baby blues.

Kali ini sebaliknya. Melahirkan di rumah dengan bantuan bidan yang hebat seperti Mbak Erie sungguh sangat nyaman. Di rumah berarti saya bebas mau ngapain aja. Saya bisa melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) yang tak tergesa-gesa. Bayi saya bahkan baru dimandikan sekitar dua jam setelah ia lahir. Sebelumnya? Ya nganget di pelukan saya (dengan tetap ditangkupi selimut tentunya). Mesra sekali bukan? Agaknya kenyamanan itu punya peran besar dalam membuat ASI saya langsung lancar jaya keesokan harinya, serta tanpa drama lecet-berdarah seperti saat awal menyusui si sulung dulu.

Bukan hanya itu, saya juga akhirnya menjajal lotus birth, meskipun nggak lotus-lotus amat karena pada hari kedua akhirnya kami memisahkan si dedek dengan plasentanya. Nanti deh saya akan cerita tentang lotus birth dua hari itu.

Simpulannya, meski persalinan kedua saya nggak gentle-gentle amat (karena masih ada efek jejeritannya), tapi saya tetap merasa bahwa ada proses yang lebih baik, lebih manis, dan lebih lembut dibandingkan persalinan pertama dulu. Yang paling utama, anak saya sama-sama sehat seperti abangnya :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar