Jumat, 19 Juli 2013

Menjemputmu Suatu Siang

Dari kejauhan, dari balik kaca jendela, kulihat kamu tersenyum padaku. Kamu tahu, senyummu itu membuatku mati-matian harus menahan tangisan yang ingin kupecahkan. Kamu tahu kenapa? Karena aku takut sekali kehilangan saat-saat seperti ini, saat kau tersenyum padaku dan begitu jelas meski tanpa kata: bahwa kamu menungguku, dan tak sabar menghambur memelukku, lalu menceritakan segala hal yang baru kau alami dengan bahasamu yang belum rapih.

Aku takut sekali karena masa yang demikian tak dua kali. Barangkali cukup dalam bilangan tahun yang singkat saja dan semuanya berganti sebagaimana hukum bumi. Suatu hari barangkali kamu tak perlu aku datang menungguimu lagi sebab kamu telah mulai dewasa dan tak ingin tampak manja. Suatu hari barangkali kamu akan diam dan tak ingin selalu bercerita apa saja, meskipun aku selalu siap mendengar apa saja yang ingin kamu katakan.


Maka saat ini, sesukar apapun akan kuhargai amat mahal setiap waktu kita. Tak akan kutukar dengan hal apapun, apalagi kubuang begitu saja. Aku akan selalu menjadi yang pertama yang kau temui, dan kita akan pulang bergandengan sambil bercerita sepanjang jalan, batang kelapa yang tak punya kepala karena tersambar petir, putaran mesin pendingin ruangan di toko-toko, sungai-sungai bertabur sampah, awan-awan mematut diri dalam berbagai rupa, dan bertanya-tanya kenapa hari demikian sumuknya.

Kita masih bergandeng tangan, lalu naik angkutan kota yang tampak kocak dengan hiasan botol-botol bekas minuman keras, dan pengeras suaranya yang keterlaluan. Kamu minta duduk sendiri barangkali sebab kau rasa telah mungkin lagi kamu dipangku, lagipula sudah ada bayi kecil di gendonganku. Kita turun angkot pelan-pelan meski sopirnya berwajah tak sabaran. Barangkali sampai di rumah nanti kamu akan rewel dan sedikit mengesalkan. Tapi kita tetap bergandeng tangan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar