Ya jelas saya tak mau datang lagi ke Rumah Sakit B. Pertama, tarif melahirkan di rumah sakit itu bukan level kami, terlalu mahal untuk kami yang hidupnya tak ditanggung asuransi dan penghasilan bulanannya sudah ludes tersedot KPR.
Kedua, situasi rumah sakit membuat saya seperti tidak punya pilihan, langsung masuk kamar bersalin, langsung induksi (yang katanya menyakitkan itu). Kok melahirkan yang seharusnya berlangsung alami malah jadi penuh rekayasa sekali ya?
Selama ikut kelas hypnobirth-yoga, saya banyak bertemu ibu hamil yang kondisi kehamilannya dianggap obgyn mereka bermasalah, tapi nyatanya kemudian dapat melahirkan bayinya dengan sealami mungkin. Rumah sakit pada umumnya juga tidak membebaskan diri ibu untuk merencanakan kelahiran sesuai keinginan atau spontanitasnya (tentu saja tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul). Intervensi medis seperti epidural, episiotomi, dll, hampir selalu dilakukan sebagai kebiasaan umum, sebagai standar prosedur setiap rumah sakit atau klinik bersalin.
Intervensi yang saya alami saat kelahiran anak saya yang pertama adalah di-epis atau diinsisi di bagian perinium, alias digunting bok! Masih ngilu kalo inget di lahiran pertama dulu dan traumanya masih ada sampai sekarang. Lebih lanjut tentang intervensi medis itu bisa dibaca di sini.
Yang lainnya, yang kelihatan remeh saja, soal posisi. Tapi posisi melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin (yang tenaga medisnya punya persepsi konvensional) hampir selalu diatur, harus begini begitu. Saya ingat betul bagaimana saat persalinan anak pertama dulu, saya diomel-omeli suster karena posisi badan saya saat kontraksi yang tak bisa diam tenang. Padahal, saat kontraksi kan kita pengennya 'joget-joget', hehehe...
Posisi melahirkan pun diatur harus terlentang setengah duduk. Posisi lainnya seolah haram hukumnya. Dilarang melahirkan sambil berbaring miring, jongkok, apalagi berdiri. Padahal, apakah melahirkan dalam posisi konvensional dirasakan nyaman oleh ibu yang hendak melahirkan? Dan mengapa harus melahirkan dengan terlentang jika posisi lain yang kita sukai (yang membuat kita lebih rileks) ternyata tidak berisiko apa-apa?
Dalam hal lain misalnya pilihan ibu untuk tetap mengupayakan kelahiran alami, tak langsung divonis harus sectio. Sering sekali saya mendengar dokter obgyn yang pada usia kehamilan muda sudah melarang vaginal birth after caesarian-sectio (VBAC). Ada pula dokter yang sudah mewanti-wanti harus sectio jika usia kehamilan lewat 39 minggu.
Salah satu teman saya berlatih yoga, Mbak Nia, adalah salah seorang ibu yang berhasil VBAC. Anak pertamanya berusia sekitar 2,5 tahun yang berarti dalam rumus para obgyn konvensional, belum bisa melahirkan anak keduanya secara normal. Alasan dokter, salah satunya, bisa merobek luka operasinya.
Beberapa hari lalu Mbak Nia mengirim sms pada saya tentang keberhasilan VBAC-nya. "Sesakit-sakitnya lahiran normal, kalau aku ngerasain lebih sakit abis caesar." Bayinya lahir sekitar sepuluh hari setelah tanggal yang diperkirakan mesin USG. Berat bayinya cukup fantastis: 3,7 kilogram.
Saya juga pernah bertemu seorang ibu yang janinnya sudah lewat umur 40 minggu. Dia enggan datang ke dokter obgyn karena sudah pesimistis duluan, karena pastinya dokter tak akan mengupayakan kelahiran normal dalam usia kehamilan yang dianggap sangat uzur itu.
Sectio caesaria (SC) memang tindakan medis yang sangat menguntungkan dalam bisnis kesehatan. Prosesnya singkat: bius-sayat-ambil. Barangkali tak sampai satu jam. Bandingkan dengan persalinan normal yang kadang butuh waktu lebih dari sehari semalam. Dan uang yang dihasilkan dari prosesi singkat itu lebih berlipat dibandingkan dengan persalinan normal yang butuh kesabaran ekstra.
Tentu saja saya tidak bermaksud mendiskreditkan ibu-ibu yang sudah melakukan SC. Bagaimanapun, memang ada situasi yang tak terelakkan, force majeur yang di luar kehendak kita.
IMHO, yang paling penting adalah tak serta merta membabi buta selalu menuruti kata dokter sebelum berupaya mengumpulkan banyak informasi. Meski pendidikan formal kita bukan dokter, tapi harus kritis dong. Second opinion adalah salah satu langkah awal untuk mengurangi risiko. Masih banyak kok dokter obgyn dan bidan cerdas yang bisa mencerahkan kita mengenai kelahiran. Yang paling penting tentu saja optimistis untuk bisa melahirkan secara alami. Aih aih, udah kayak motivator aja nih saya :))
Demikianlah, demi tekad bulat melahirkan secara alami, saya tak menghiraukan Dokter S yang menyuruh saya datang ke Rumah Sakit B pada hari Kamis 9 Mei. Keputusan yang tepat, karena kejutan datang sehari sebelumnya, Rabu 8 Mei.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar