Dedeknya sudah lahir?Aneh ya zaman sekarang melahirkan di rumah? Kerabat, tetangga, teman, kebanyakan terheran-heran (mungkin campur ngeri, campur kasihan, semacam melahirkan yang teramat spontan sehingga tak keburu lagi dibawa ke rumah sakit) atau semacam pelit untuk keluar duit asal selamat. Tidak. Bukan itu konteksnya.
Sudah.
Di rumah sakit mana?
Di rumah.
Hah?
Saya memang berniat ingin melahirkan adiknya Cak Mad di rumah. Ini terutama karena selama kehamilan kedua ini, saya banyak mendapat peringatan dari dokter. Membuat saya galau luar dalam, galau di pikiran juga galau di kantong untuk periksa ini itu harus beli obat ini itu.
Mau anaknya lahir sehat kok nggak mau keluar duit?
Lho, pertanyaannya bukan begitu. Pertanyaannya adalah apakah keluar duit untuk semua itu akan worth it? Memangnya hanya intervensi medis saja satu-satunya jalan untuk kelahiran yang sehat alami? Oke. Skip dulu. Pertanyaan itu pasti akan membuat cemberut para dokter obgyn konvensional. Padahal ada banyak hal yang melatarbelakangi skeptisisme saya, yang ternyata juga sama seperti yang tertulis di sini. Kalau sudah baca, pasti akan emosi. Hehehe...
Saya katro ya memilih persalinan di rumah? Tapi ternyata kekatroan saya ini sudah pernah diteliti di Amerika dengan responden mayoritas kulit putih dan berpendidikan college. Tiga alasan terbanyak mengapa para respondennya memilih home birth adalah kenyamanan, menghindari intervensi medis yang tak perlu, dan pengalaman buruk yang pernah dialami sebelumnya saat dirawat di rumah sakit. Ih, sehati deh sama saya!
Pada mulanya adalah Dokter N, di rumah sakit H. Ini adalah dokter terkenal, di rumah sakit yang tentu terkenal juga. Saat hamil Cak Mad dulu, saya rutin memeriksakan kandungan di kliniknya di Pasar Minggu. Dokter ini terkenal dengan antrean pasiennya yang panjang, mungkin karena dokter cewek dan karena orangnya cantik juga ramah. Kekurangannya (selain antrean panjang) adalah ketergesaaannya, sesi konsultasi hampir selalu berjalan singkat padat ringkaslah pokoknya. Paling lama, plus sesi USG, saya berada di ruang kontrol tak sampai 15 menit.
Minggu ke-34 menuju ke-35, Dokter N menganalisis berat janin di kandungan saya terlalu minimal, hanya 1900 gram. Idealnya, pada usia itu dedek bayinya sudah 2200 gram.
Saya agak bingung. Pada minggu sebelumnya, tidak ada masalah apa-apa. Dan saya pastikan saya makan cukup banyak, rutin mengonsumsi telur ayam kampung dan madu pula. Suami saya, seperti biasa juga paling rajin mengupas buah dan memastikan saya menyantapnya sebanyak mungkin. Naluri saya pun berkata, anak saya baik-baik saja, saya tahu itu.
Dokter N merekomendasikan saya untuk melakukan USG fetomaternal, yakni pemeriksaan USG yang lebih detil untuk mendeteksi kondisi janin yang tidak terpantau dengan USG biasa. Dalam kasus saya, ada kemungkinan asupan makanan tak sampai ke janin. "Bisa jadi ada kelainan di pembuluh darah, tapi harus di USG feto dulu supaya lebih akurat."
"Apa beratnya tidak bisa digenjot dulu dengan asupan makanan apa gitu dok?"
"Banyak makan steak ya, daging merah, sama hati ayam."
Namun ia tetap menyodorkan form pengantar ke dokter yang menangani USG feto di rumah sakit itu.
"Memangnya risikonya apa dok kalau ada kelainan pembuluh darah?"
"Ya kalau berat badannya nggak naik-naik kelahirannya berisiko. Bisa dilahirkan sebelum waktunya."
Glek.
Saya pun keluar ruangan dengan wajah hampa, yang terus berlanjut hingga saya antre mengambil vitamin di apotek. Batin saya berontak. Ya memang saya kurus, dulu juga hamil Cak Mad saya kayak orang busung lapar.Tapi toh Cak Mad nongol dengan berat lumayan, 3,4 kg. Kali ini saya yakin janin di perut saya beratnya tak jauh berbeda dengan abangnya, dan kondisinya pasti baik-baik saja. Lagipula, masa sih nggak ada waktu untuk menggenjot berat badan si dedek?
Saya mengirim sms penuh kegalauan pada Mbak Erie, bidan yang juga pelatih hypno-yoga saya selama ini. Beruntunglah saya selama ini juga konsul dengan praktisi gentle birth seperti Mbak Erie, yang bisa diganggu kapan saja dengan pertanyaan-pertanyaan rewel saya. Jawabannya saat itu cukup menenangkan saya. "Masih banyak waktu kok, coba konsumsi jus alpukat deh."
Kami memutuskan untuk tidak langsung menuju dokter USG feto. Kami akan mencari pendapat kedua demi memenuhi skeptisisme saya. Sementara itu, saya akan mengerahkan segala daya upaya untuk menggenjot berat janin dengan cara alami, dengan menjelma jadi bumil super rakus pada segala makanan bergizi.
Suami saya ikut berpartisipasi aktif untuk membuat istrinya lebih gendut. Esok subuhnya, ia sudah berangkat ke Pasar Citayam, ke tempat penggilingan bakso. Kalau ada rejeki lebih, kami memang suka bikin bakso untuk dikonsumsi sendiri. Lebih mantap rasanya (dagingnya jelas lebih banyak daripada sagunya), dan jelas lebih sehat karena tanpa MSG, apalagi boraks dan kawan-kawan. Kali ini baksonya akan dipersembahkan untuk cemilan saya, hehehe...
Nasib saya memang agak beda dibanding kebanyakan orang yang malah susah menurunkan berat bedan. Saya malah sebaliknya, mesti banyak makan. Tapi jangan kira itu mudah. Lihat saja menu rutin yang harus saya konsumsi tiap hari: jus yang dibuat dari 3 buah alpukat dicampur dengan susu UHT coklat, hati ayam digoreng, olahan daging merah (semur atau rendang atau empal), serta pisang ambon 3 buah. Itu di luar menu rutin saya (nasi, sayur, ikan, juga telur dan madu). Bagaimana? Lumayan ekstrim kan?
Proses selanjutnya adalah mencari dokter yang akan saya mintai second opinion. Walaupun saya memilih melahirkan di rumah dengan didampingi bidan, tetapi saya tetap memerlukan pendapat ahli obgyn dong. Seperti biasa, saya mengandalkan 'dokter google' untuk merekomendasikan dokter obgyn yang oke.
Sayangnya, jadwal praktik dokter pilihan google ternyata tak bisa pas dengan jadwal suami saya. Walhasil, sampailah saya pada Dokter S di Rumah Sakit B. Kenapa memilih Dokter S, karena dia cewek, karena saya tidak menemukan catatan reputasi buruknya, dan karena rumah sakit itu tampaknya cukup bagus, setidaknya pro ASI, dan punya fasilitas water birth.
Eh ternyata dengan dokter yang satu ini, kegalauan saya tak lantas berhenti. Melainkan berganti. Lebih parno lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar