Kamis, 31 Januari 2013

Kelas Hypno-Yoga

Sebagai orang yang ndeso, mengikuti kelas yoga memang terasa aneh, asing buat saya. Apalagi yoga yang didahului hypno. Apa itu yoga? Dan apa itu hypno?

Yoga, tentu sudah banyak yang tahu. Silakan bertanya pada Google yang bisa menjelaskan panjang lebar. Hypno, adalah saat ditanamkan sugesti-sugesti, dalam hal ini bahwa saya akan selalu sehat, kelahiran akan berlangsung normal, dan sejenisnya. Teknisnya, yoga itu kayak senam, dan hypno ya kayak acara hipnotis di televisi. Tidak sedramatis itu, tapi mirip.

Saat di-hypno, posisi saya menyamping ke kiri dan mata terpejam. Memang cukup nyaman, tapi konyolnya, kadang saya merasa kalimat-kalimat sugesti disampaikan dengan logat agak mirip Mario Teguh (hehehe... piss Mbak Erie). Kondisi itu membuat watak ndeso saya kambuh. Saya jadi tidak bisa fokus, dan seringkali membayangkan kalau suami dan anak saya melihat sesi hypno, mereka pasti akan tertawa tergelak-gelak.

Sekitar setengah jam (atau lebih ya?) menjalani hypno, barulah masuk sesi yoga. Diawali dengan latihan nafas, lalu gerakan yang makin lama makin dinamis. Sejumlah peserta yoga yang lain menyebut gerakan-gerakan yoga untuk bumil ini berbeda dengan senam hamil yang cenderung tak terasa apa-apa (mungkin karena tak banyak peregangannya).

Seperti biasa, saya selalu lupa nama jurus, eh.. gerakan yoga. Saya cuma ingat sepotong-sepotong saja nama gerakan-gerakan yoga, terutama yang bisa dipraktikkan sehari-hari (tanpa perlu bantuan instruktur), yaitu sufi rotation dan kupu-kupu.

Yang jelas, setelah yoga badan memang terasa segar. Kalau sebelumnya untuk menarik nafas dari hidung saya cuma sanggup dua hitungan, sekarang sudah bisa empat. Jadi tidak hah-huh-hah-huh lagi. Dan kali terakhir saya di-hypno, akhirnya berhasil juga saya 'kena'. Saya hanyut dalam kondisi kesadaran yang entah. Mungkin setengah tertidur, mungkin pingsan, hehehe. Tapi yang pasti saat sesi hypno usai, saya pun terbangun. Saat itu, pikiran memang terkondisikan lebih rileks.

Saya ikut kelas hypno-yoga (per-sesi kurang lebih 2-3 jam, biayanya Rp 100 ribu) sebagai salah satu ikhtiar untuk mengurangi berbagai keluhan selama hamil kali ini, terutama nyeri di tulang ekor dan sakit perut bagai ditusuk. Selain itu, tentu saja tujuan utamanya adalah supaya saya bisa melahirkan dengan normal (sumpah, sectio caesar itu momok buat saya).

Hal lain yang menarik saat ikut hypno-yoga ini adalah saya banyak bertemu dan bertukar pengalaman dengan para ibu hamil dari berbagai daerah. Ada bumil dari Sentul, Depok, Bogor, Jakarta dan lain-lain. Yang paling jauh yang saya temui adalah seorang bumil dari Rangkas (yang berangkat ke Citayam bakda Subuh demi ikut kelas hypno-yoga ini).

Sebagian besar peserta kelas hypno-yoga itu adalah bumil yang parno dengan SC. Saya bertemu bumil yang kandungannya sungsang dan divonis dokternya harus menjalani SC. Saya juga bertemu sejumlah bumil yang trauma dengan pengalaman SC yang pernah mereka alami. Itu membuat mereka bertekad melakukan VBAC, vaginal birth after caesarian-sectio.

Pada pokoknya, semua bumil itu berupaya keras untuk bisa melahirkan dengan jalan sealami mungkin, gentle birth. Semuanya rela datang dari jauh untuk ikut kelas hypno-yoga di klinik Bidan Erie di pelosok Citayam. Semuanya adalah 'korban' Google nan baik hati. Demikian pula saya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar