Pulang dari kontrol di RS Hermina, saya langsung bergerak cepat, mandi, mandiin Cak Mad, nyuapin makan
Soal perdapuran, sudah saya posting di blog dapurduaistri. Soal kerusuhannya, nah itu... Pengalaman pertama bikin cookies memang cukup ekstrim bagi saya. Sampai-sampai Mas Bojo pun geleng-geleng kepala, "Ini nggak worth it."
Iya sih, karena saya mulai ndapur sejak bakda ashar, dan selesainya jam 20.30 WIB. Itu kan lama banget. "Masa segitunya bikin kue?" protes Mas Bojo. Lha, saya membela diri, saya sendiri juga nggak tahu kalau segitu lama. Sebelumnya saya belum pernah membuat cookies. Mana saya tahu kalau mengeluarkan adonan dari cetakan alfabet yang kecil ini susah sekali sehingga makan waktu. Dan saya belum tahu bahwa ternyata ada triknya untuk mengakali kesulitan itu.
Larut di dapur sedemikian lama, saya memang nggak abai-abai banget dengan kewajiban saya. Itu sebabnya sebagian cookies gosong. Ada saat-saat saya harus mengurus makannya Cak Mad, pipisnya, pupnya, minta ini itunya, dan sebagainya. Ya tidak apa-apa.
Tapi buat Mas Bojo yang baru datang menjelang isya, waktu saya sangat berarti. Lha wong saya lagi hamil, baru pulang dari Depok. Mestinya badan diistirahatkan dulu. Cak Mad juga pasti kurang diperhatikan meski sudah makan. Tidak ditemani bermain, tidak didengar celotehannya, dan lain-lain.
Huhuhuhu...
Baiklah, saya kapok deh pakai cetakan kecil. Nanti kalau saya membuatkan cookies kayak begini buat adiknya Cak Mad, saya mau cari cetakan alfabet berukuran besar dulu.
Untungnya, meski Mas Bojo sempat cemberut sebentar karena saya kelamaan ndapur, tapi tanpa disuruh, dibantunya saya merapikan rumah, dan mengepel lantai yang lengket jejak mentega.
Ai lop yu Mas Bojo...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar